Minggu, 08 Desember 2013

Maafkan aku, Ibu

Ibu,
Ibu,
Ibu,
Ibu.

Siapa orang pertama yang akan bahagia jika kau bahagia?
Siapa orang pertama yang terluka jika kau dilukai?
Siapa orang pertama yang tertawa walaupun candaanmu tak lucu?
Perasaan siapa yang pertama kali merasa paling tersiksa jika hidupmu terpuruk?
Dan, siapa orang pertama yang menangis jika kau tak bahagia?
Dia adalah ibu, ibu, ibu dan ibu.

Catatlah.
Dia adalah orang yang selalu ada disaat kau jatuh dan terluka.
Pelukannya selalu ada setiap kali kau butuhkan.
Nasihatnya selalu tak pernah bosan didendangkannya walau kau bengal.
Doanya selalu tersirat untukmu.
Hatinya akan selalu terpaut padamu.
Tetesan keringat yang dikeluarkannya setiap hari tak lain hanyalah untuk menyambung pendidikanmu.

Setiap malam ia tidur lebih larut darimu.
Setiap hari ia hanya memikirkan bagaimana cara agar perutmu terus terisi.
Ia tak ingin dipuji maupun dibalas kasih.

"Kecewa" dan "menyesal" adalah 2 kata yang terpaut satu sama lain.

"Kau tetaplah anakku walau sikapmu telah berubah terhadapku dan membuatku kecewa." Isi hati seorang ibu. "Hal paling bahagia bagiku adalah melahirkanmu, walau suatu saat, hal yang paling kusesali juga adalah karena melahirkanmu."

Dan apa yang telah kita lakukan?
Setiap nasihatnya tak pernah didengar.
Setiap amarahnya selalu diacuhkan.
Setiap perintahnya selalu diabaikan.
Setiap pembicaraan selalu kita akhiri lebih dulu dan tak pernah ingin berlama2 menghabiskan waktu.

Yang pada akhirnya...
"Aku menyesal telah mengabaikanmu, membentakmu, memusuhimu dan memarahimu, dulu."
"Aku menyesal tak pernah menyetujui pendapatmu, membiarkan kau bangun lebih dulu dan tidur lebih larut dariku, dulu."
"Aku menyesal membekukan hatiku untuk tak mengatakan aku rindu, ibu, dulu."
"Aku menyesal karena tak pernah mau mencium dan memelukmu, dulu."
"Aku menyesal karena tak sempat membalas budimu, ibu."
Itukah yang kita ingin??? 

Sabtu, 23 November 2013

Akhir Pelangi (part 2)

Hari ini aku telah berada di ujung jalan yang dulu sempat kulalui.
Rumah hati yang ingin kusinggahi waktu itu telah berubah menjadi rumah kosong berpenghuni ilusi dengan aura gelap lagi pekat.
Aku bahkan tak ingin menginjakkan kaki lagi pada halamannya.

Kau tahu... Aku benci mengatakan ini... Tapi aku salah.
Tak ada satu pun tujuan hidupku di belakang sini.
Rumah hati yang dulu ingin kusinggahi telah penuh dengan fatamorgana.
Tak ada satu pun kamar kosong di tempat itu yang siap kuhuni.

Aku melihatmu duduk termenung di kursi malas beranda depan rumahmu.
"Mengapa jadi begini?" Tanyaku bingung.
Engkau menghembuskan nafas pelan sebelum menariknya kembali dengan satu tarikan nafas panjang. "Kau telah pergi meninggalkanku tanpa permisi!! Kau tahu apa yang selama ini telah kau perbuat??? Kau tahu betapa sakitnya menjadi korban penjara patah hati yang kau ciptakan sendiri untukku!!!" Tanyamu geram.
"Aku....."
"Kau memenjarakanku di dalamnya lebih dari 3000 hari tanpa berusaha untuk menjengukku demi membukakan kunci!! Dan kini kau ingin kembali???"
"Aku....."
"Pergi dan jangan kembali!!!!" Serumu sembari menunjuk satu jalan setapak kecil sunyi.
"Tapi aku ing...."
"Pergi!!! Aku tak ingin mengingatmu lagi!!!" Serumu sekali lagi.

Aku berbalik arah dan berjalan kembali ke belakang, mengejarmu yang beberapa saat lalu kutinggalkan.
Lalu, sedetik kemudian aku menyadari bahwa jalan yang tadi kutapaki tak lagi terlihat.
Jurang besar telah menganga tepat beberapa senti di depanku. 
Hingga aku tersadar bahwa kau telah pergi dan tak dapat ku gapai lagi.

Rumah ilusi tadi??? 
Ia lenyap bersama sayatan kepedihan yang selama ini terus menyelimutinya. 
Sisanya, hanya tanah kosong dengan rumput liar setinggi dada yang tak berpenghuni.

Dan, disinilah aku berada.
Membangun jembatan dari sisa potongan sesal.

Selasa, 12 November 2013

Pada Akhirnya...

Sepi dan sendiri adalah 2 kata yang bertautan 1 sama lain.

Siapa yang menginginkan sendiri?? Dan sepi???

Pada akhirnya, kita adalah kesendirian di dalam hidup kita sendiri.
Orang2 yang kau temui..
Orang2 yang pernah singgah dan hadir di dalam hidupmu, satu per satu akan mulai pergi.
Jiwa mereka akan berhembus ke alam lain lagi.

Pernahkah kau mengalami saat2 seseorang yang paling kau sayang mengalami sakaratul maut di depan matamu dan kau tak bisa berbuat apa2 untuk menyelamatkan mereka atau sekedar memohon jangan pergi??

Tubuh dan fikiranmu akan mendadak kacau karena kau akan dihadapkan dengan kesendirian sebab kepergiannya.

Pada akhirnya, satu per satu dari kita semua akan mengalami kesendirian dan kekosongan.

Saat anak2 kita telah beranjak dewasa dan mulai membenahi keluarga kecil mereka sendiri sedangkan belahan jiwamu telah pergi mendahuluimu..

Dimana tempatmu merebahkan bahu?
Dimana tempatmu mengeluh?
Pada pundak mana kamu akan menangis karena letih akan sendiri?
Dan siapa lagi yang akan memberikan semangat untuk terus berjuang melewati masa tua penuh kesakitan suatu saat nanti??

Pada akhirnya, apapun yang terjadi di dalam hidupmu akan terkubur bersama masa tanpa ada yang mengingatnya.
Tangis yang beberapa minggu sempat menghiasi nisanmu akan berganti tawa baru dan melupakanmu.

Pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa apa yang terjadi di dalam hidupmu sendiri adalah rekayasa alam yang membawamu mengikuti arus kehidupan yang sebenarnya tak pernah kau pahami.

Pada akhirnya, semua harapan, keinginan, semangat, dan canda tawa akan mati.

Dan ikhlaslah jalan satu2nya untuk merelakan semua yang telah terjadi.

Minggu, 03 November 2013

The Name of Love

Di atas nama kamu yang mencintaiku, aku menyayangimu.

Aku tak akan pernah berhenti pada titik penantian.
Walau penat terasa mencekat.
Walau rindu slalu meresap.
Walau rintangan serasa begitu berat.
Walau hati kerap goyah.
Walau ego selalu utama.
Aku ingin mencintaimu tanpa jeda.
Yang akan selalu menjadi akhir pada pengharapan.

Aku telah memilihmu dengan segala resiko yg akan ku hadapi.
Walau rasa sering salah menyapa diri.
Walau terkadang ia keliru memperhitungkan luka yg bersiap menghujam nurani.
Dan walau sering tersesat memasuki rumah hati.

Karena rindu dan sepi adalah 2 kekasih yang tak bisa dilepas pergi. 
Seperti kamu yang tak ingin ku lelahi.

Secintanya aku pada beribu gugusan pulau di Indonesia, daratan pasti kurindui.
Maka itu, sejauh apapun aku berlari, pada akhirnya kau yang akan slalu kudapati, nanti. 

Kamis, 31 Oktober 2013

Bimbang

Akan datang hari dimana kau harus memilih...
Memilih pekerjaan mana yang lebih baik..
Memilih dimana akan tinggal..
Memilih apa yang kau ingini..
Memilih jalan seperti apa yang akan kau tapaki..
Memilih baju mana yang cocok untuk datang ke pernikahan sahabat terbaikmu..
Dan memilih hati mana yang lebih ingin kau genggam.

Akan datang hari dimana kau harus belajar untuk merelakan segala hal yang pernah kau punya.

Akan datang hari dimana kau takut untuk memilih 1 pilihan di antara pilihan lainnya.

Akan datang hari dimana kau harus berdiri sendiri diatas kakimu sendiri tanpa bantuan orang lain lagi yang selalu membantumu merangkak.

Akan datang hari dimana kau harus mengikhlaskan kepergian seseorang dalam kehidupanmu.

Akan datang hari dimana kau harus memilih dan melepas salah satu dari kedua pilihan berat.

Akan datang hari dimana kau dipaksa untuk pergi bersama 1 massa dan membiarkan ruang lain kosong tanpa udara.

Akan datang hari dimana kau harus menerima keputusan hidup yang sebenarnya tak ingin kau jalani.

Yang kau butuhkan adalah keyakinan pada hati nurani.
Semua pilihan berat yang pernah terjadi di dalam kehidupan adalah pelajaran berharga yang membuatmu dewasa.
Membuatmu mandiri dan akhirnya dapat mengerti bagaimana arti kehidupan.

Walau beban terasa berat..
Walau seribu satu cobaan terus menghalangi..
Walau beribu tembok berlapis baja membentengi..
Walau kesalahpahaman akan selalu terjadi..
Walau kau tak yakin dengan diri sendiri..
Yakinlah pada 1.
"Tuhan"
Biarkan semua berjalan dan Dia yang memutuskan.
Sesulit apapun pilihan yang ingin kau temui jawabannya, buka lebar kedua tanganmu dan biarkan Dia yang membantu mengangkatmu dari keterpurukan bimbang yang menjalari seluruh hati dan fikiran.
Berikan Dia kesempatan untuk membuktikan bahwa pilihanmu benar.

Selasa, 29 Oktober 2013

Kelak...

Apapun yang kau inginkan...
Apapun yang ingin kau kejar...
Apapun yang kau impikan...
Bersabarlah. 
Semua akan indah pada waktunya.

Kelak, akan datang saat dimana kau tak akan lagi bersusah2 memikirkan keadaanmu esok hari.
Kelak, akan datang saat dimana kau tak akan lagi bersedih hati.
Kelak, akan datang hari dimana kau akan terbebas dari rasa kecil hati.
Kelak, kau tak perlu menginap dari 1 mesjid ke mesjid lain lagi.
Kelak, akan datang dimana kau tak perlu bersakit2 menahan pegal duduk di atas motor butut itu lagi.
Kelak, apa yang kau tunggu akan datang.
Kelak, siapa yang kau mau akan kembali.
Kelak, akan datang 1 pertanyaan paling membuatmu gundah "will you marry me?"
Dan kelak, akan datang rasa sesal dibalik itu semua.

Ketahuilah, tak ada 1 orang pun yang tak diberi adil oleh penciptanya.

Hubungan sebab akibat yang terjadi dalam kehidupan adalah tak lain karena pilihanmu sendiri.

Mencintai manusia yang menjadikanmu orang lain tidaklah kau butuhkan di masa depan.

Mencintai manusia yang menuntutmu menjadi apa yang ia ingin dan selalu membuatmu tertekan tidaklah kau butuhkan di masa depan.

Mencintai manusia yang membuatmu rela menjadi seorang pembantunya tidaklah kau butuhkan di masa depan.

Yang kau butuhkan untuk masa depan adalah seorang manusia yang penuh dengan rasa sabar..
Seorang manusia yang tak gentar menghadapi kedua orang tua dan keluarga besarmu..
Seorang manusia yang tak goyah dengan caci maki ketidaksetujuan mama papamu.
Seorang manusia yang mengerti dengan keadaan dan kamu.
Seorang manusia yang ketika ditantang untuk menikahimu ia akan menjawab "aku siap".
Seorang manusia yang rela berubah demi kamu.
Seorang manusia yang akan kembali mengejarmu walau pedih yang telah kau berikan ketika memutuskannya dulu.
Dan seorang manusia yang bersiap membuat 1 komitmen padamu.

 Kelak, akan tiba saatmu memilih jalan mana yang akan kau tempuh di masa depan.
Dengan pasangan yang kau inginkan??Atau pasangan yang kau butuhkan??

Kamis, 29 Agustus 2013

Please, don't give up for me

Aku telah berada di sudut paling gelap dalam lingkaran kehidupanku.

Sudut paling menyeramkan yang tak seorang pun ingin mendekatinya.

Sudut yang paling menyedihkan dari hal apapun itu.

1 pilihan telak harus kuambil saat ini juga. Yaitu pergi dari tempat ini untuk beberapa waktu atau mungkin untuk selamanya.

Meninggalkan segalanya yang telah kudapatkan disini dan meninggalkanmu.

Kau tak akan pernah tahu jalan kehidupan yang akan kau tempuh esok. 

Kau tak akan pernah tahu seberapa besar perasaanku saat ini padamu.

Kau tak akan tahu betapa sulitnya aku mengambil keputusan paling menyedihkan dalam hidupku, yaitu meninggalkanmu.

Kekasihku, jangan menangis. 
Percayalah semua ini akan berlalu.
Aku tahu takkan mudah.
Tapi aku akan selalu disini.
Bertahan demimu.

I love u (titik)

Senin, 26 Agustus 2013

Sabar? Kaukah itu?

Cinta, hari ini aku belajar satu pelajaran berharga lain, yaitu sabar.

Mengapa kau selalu begitu sabar menghadapiku?? 

Mengapa engkau begitu berlapang dada dengan keterus teranganku yang ingin menyelingkuhimu??

Mengapa engkau begitu...menerimaku yang seperti ini??

Cinta, maafkan aku.

Hatiku miris melihat ketangguhanmu. 
hatiku sayu melihat pandangan mata kesabaranmu.
Hatiku menangis melihat engkau yang dengan sabarnya menghadapiku yang begitu tak memiliki simpati dan belas kasih.

Cinta, maafkan aku karena aku masih tak dapat mencintaimu.
Maafkan aku karena masih tak dapat ikhlas mempercayai bahwa engkau yang berada di sampingku kini.

Cinta, hidupku begitu menyedihkan.
Sama dingin dan bekunya dengan batu es di samudra atlantik yang kurasa baru akan mencair ketika kiamat tiba.

Cinta, maafkan aku karena aku masih tak mempersilahkanmu masuk ke ruangan hatimu yang dulu dan hanya memperbolehkanmu berbaring di beranda depan yang hanya beralaskan keramik dingin. 

Tapi engkau tetap tak menyerah, cinta.
Engkau masih saja bersabar dan tetap membuktikan bahwa itulah kau, sang Cinta.

Beribu caci makian dan umpatan telah membuat mulutku berbuih agar kau jera dan pergi dari kehidupanku.
Tapi sedikit pun engkau tak bergeming.

Kau masih tetap tegak berdiri di depan rumahmu yang dulu sambil terus menungguku membukakan pintu, walaupun aku mengetahui bahwa sebenarnya sesekali hatimu juga dibajiri oleh air hujan yang membuatnya jatuh sakit.

Cinta, aku harap aku dapat menjadi lebih baik dari ini. 
Dapat membuka kedua tanganku untuk merengkuh kedua pundakmu dan berkata "aku mencintaimu".


Pergi!!

Cinta, apa kabar?
Lama kita tak bercengkrama dan bersua.

Aku tahu hari-harimu masih dirundung duka. 
Sedangkan aku hanya mempermainkan hatimu saja.

Kau bertemankan duka nestapa. 
Sedangkan aku sibuk bermain cinta.

Kau selalu belajar menata sabar.
Sedangkan aku selalu kesal.

Wahai cinta yang penuh dengan rasa sakit... Maafkan aku karena telah menendangmu dari rumah yang selama ini kau tempati.

Ini adalah akhir dari aku dan kau yang tak akan pernah menjadi kita.

Wahai cinta pemilik duka... Selamat tinggal. Bawa pergi segala rasamu.
Aku tak ingin ingat kau.

Selasa, 09 Juli 2013

Tentang Aku

Assalamualaikum, cinta.
Apa kabar?
Kuharap kau baik-baik saja di peratapan rindu.
Aku menunggumu. 
Disini, bersama waktu.

Aku benci ketika aku menyapamu tapi kau tak membalas sapaanku.
Tak mengapa. 
Aku akan terus mencoba.

Aku tak suka ketika otak dan hatiku dengan cerdiknya selalu bersekongkol untuk merinduimu.
Untuk apa aku melakukan hal itu! Sedangkan kau tak sedikit pun berniat untuk memikirkanku.
Tak mengapa.
Aku akan membiarkanmu berkeliaran di setiap sudut fikiranku hingga kau hilang dengan sendirinya.

Kau tahu artinya sakit bagiku?
Adalah ketika aku setiap kali menyapamu dengan senyum tulusku tapi kau malah berulang kali membalasku dengan ketidak acuhanmu.

Aku telah menitipkan rindu pada waktu. 
Sedangkan kau malah menitipkan sendu padaku.
Aku tak ingin memeliharanya. 
Karena ia hanya akan terus memberikan duka.

Kau ingat ketika kita duduk di gondola cinta dahulu?
Kau menggenggam tanganku ketika aku hampir terjatuh.
Aku ingat itu.

"Maaf, aku tak mempunyai sedikit pun rasa sayang lagi padamu."

Itu adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku.
Tak mengapa.
Aku akan menunggu. 
Bahkan jika harus menunggu hingga seribu atau pun sepuluh ribu hari lagi.

Aku akan membiarkanmu terbang bebas, jika itu maumu.
Tak mengapa.
Aku akan memberikanmu batas waktu untuk kembali padaku. 

Yours.


Rindu itu...


Kau tahu apa itu rindu?
Rindu itu.. 
Kamu.

Kalau cinta? Kau tau apa artinya?
Cinta itu...
Korelasi positif antara kau dan aku dan menjadi "kita".

Ruang lingkup duniaku, ya kamu.

Aku cinta kamu, titik.
Kamu adalah nilai absolut yang tak dapat kuubah lagi.

Ruang Tanpa Udara


Lagi-lagi aku terus saja menuliskan surat padamu yang walaupun kutahu kau entah kapan akan membalas suratku. Atau mungkin takkan pernah membalasnya..
Lembaran kertas berwarna merah jambu yang selalu setia menyampaikan pesan rinduku padamu hampir habis.
Aku tak sanggup menunggu lebih lama lagi, cinta.

Hey, kau tahu. Aku kehilangan sebuah kunci berwarna emas dan berukir hati di pegangannya. 
Aku tahu kunci itu masih ada padamu.
Kau bisa membuka pintu rumahmu kapan saja, jika kau ingin.

Umurku kian menua dan aku tak sabar lagi untuk menemuimu!
Kau tahu, ini sudah seribu hari lebih seminggu kau berlalu tanpa menemuiku.
Jangankan menemui.. Melirikkan matamu padaku saja kau tak mau.

Aku merindukanmu. 
Sama seperti manusia lain yang sibuk memamerkan kecintaannya terhadapmu.. Aku juga ingin itu, cinta.
Aku menginginkanmu tanpa basa basi. 
Aku menginginkanmu sama besarnya dengan keinginanku untuk terus menjalani hidup demi menunggumu setiap waktu.

Aku hampir bosan, jika kau ingin tahu.
Harus berapa ribu kali lagi aku mengirimkan surat padamu agar kau membalas suratku??
Bahkan sunyi yang setiap saat kurasuki pesanku tak ingin lagi mendengar lagu sendu.
Harus berapa ribu hari lagi kulalui menunggu kehadiranmu pulang seperti dulu??

Aku masih menunggumu. 
Aku tetap menunggumu di persimpangan jalanku. 
Aku menunggumu di setiap doaku.
Aku menunggumu di barisan helaan nafasku.

Kau tahu mengapa?
Karena kau telah menitipkan luka padaku.
Aku sudah menjaganya selama seribu lebih tujuh hari untukmu.
Dan kini aku ingin kau mengambilnya kembali dariku.

Hatiku mulai membiru karena beku.
Aku telah mencoba memberi plang besar di dalamnya yang bertuliskan "dijual".
Tetapi tak satu cinta pun berminat membelinya.
Ruangan demi ruangan di balik pintu yang bernama hati itu telah menghitam.
Tiada sedikit pun cahaya kehangatan disana.

Sampai kapan kau membiarkanku kehilangan asa?
Membiarkanku menjadi gelandang di dunia khayalanmu?
 
Sekali ini saja, pulanglah ke rumah hatimu dan sapa aku.

Yours.


Sabtu, 06 Juli 2013

Kekuatan Cinta!


Wahai duka, aku tak lagi memerlukan kehadiranmu di sudut hatiku.
Aku telah memecatmu dari pekerjaanmu semula sebagai pembuat produksi derai air mata.
Aku telah memutuskan untuk menghadapi sang pembuat masalah dengan diriku sendiri. 
Mengapa? Karena aku akan rapuh jika berteman denganmu. 
Sendu akan selalu setia menemaniku, karenamu.
Hari-hariku akan penuh dengan air muka kesedihan dan lara.

Aku tiada pernah memintamu hadir dan menemani sisi gelapku.
Tapi tiba-tiba kau sudah datang saja dan membawa bencana.
Ya! Kau adalah pembawa bencana dalam aliran masaku.
Kau adalah teman sang penyakit hati yang tak lain adalah si pemikir buruk sangka dan ego.

Aku tak inginkan duka.. Maka aku harus cari bahagia.
Dengan apa?
Dengan memberikan cinta.
Pada siapa?
Pada engkau.. Bunda.

Aku bahkan memilih untuk lari dan menjauh darimu. Membiarkan segala masa kelam tetap berada disitu tanpa berusaha kusapu.

Kepalaku melebihi kerasnya batu yang selalu menjaga kerasnya untuk tak memohon maaf padamu.

Bersimpuh aku bersimpuh. Padamu Tuhanku. 
Ampuni aku.

Aku sudah menandatangani kontrak seumur hidup dengan nyawaku sebagai taruhannya pada Sang Kuasa untuk terus mencintaimu, agar kau pun tetap mencintaiku.

Jumat, 05 Juli 2013

PLEASE, COME BACK!



Wanita malang itu masih duduk terpekur di meja dekat jendela kamarnya sambil menatap matahari yang sedari tadi tak menampakkan jati dirinya di langit milik Sang Kuasa. Penanya sudah tak dapat lagi mengeluarkan tinta dengan benar. Tumpukan kertas berwarna pink sudah tak tertata lagi di atas mejanya. Sebagian ada di tong sampah yang terletak di bawah kolong meja mungilnya dan sebagian lagi masih berserakan di lantai keramik kamarnya.

Ya! Benar. Wanita itu adalah aku. Hari demi hari aku menunggu cinta pulang ke rumah hatiku. Sudah seribu hari yang silam ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku. Meninggalkanku tanpa rencana dan membiarkanku berdua dengan sendu.

Aku lelah mencarimu yang bersembunyi di negeri khayalan, cinta. Kaki-kaki hatiku mulai berat untuk bergerak maju dan hati ini tak lagi kuasa memompakan nafas kecintaannya terhadapmu, cinta.

Berulang kali kukatakan bahwa aku ingin Kau!! Seribu surat berwarna merah jambu yang kulayangkan padamu melalui hujan pun tak kau acuhkan.

Ia menghilang tanpa menyampaikan surat yang kuberikan agar sampai kepadamu, kau tahu!! 
Tapi tak sekali pun kau membalas suratku. 
Pernah sekali kau datang menghampiriku waktu itu. 
Kufikir kau akan menetap bersamaku disini. 
Tapi ternyata semua hanya basa-basimu yang membuatku hanyut bersama sendu untuk yang kesekian kali.

Berulang kali aku telah membiarkanmu menggoreskan luka di dasar hatiku. Berulang kali kau telah kubiarkan untuk memperlakukanku bagai budak yang terus mematuhi keinginanmu. Berulang kali telah kuberikan tubuhku demi hasrat yang kau inginkan. Tapi kau tetap pergi.

Cinta, aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang semu karenamu. Mulutku telah terkotori oleh umpatan-umpatan keji kepada para pujangga yang sedang dimabuk cinta di luar sana.
Aku mengganggap mereka rendah karenamu, cinta! Aku menganggap mereka serba berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu semua karenamu, cinta. Kaulah yang membuatku berfikiran buruk terhadap setiap manusia yang sedang jatuh cinta.

Aku membencimu karena kau tak pernah lagi mau menghampiriku. Aku membencimu karena kau tak lagi ingin menyapaku. Aku membencimu karena kau terlalu sibuk dengan manusia lain dan tak memperdulikanku.

Kau tahu, aku rela setiap hari menungguimu kembali di depan pintu. Pagarnya tak terkunci. Kubiarkan terbuka lebar agar kau dapat dengan leluasa masuk ke dalam rumahmu.
Aku tak berjanji untuk kembali menjadi budakmu. Paling tidak aku dapat menjadi lebih baik dari itu.

Aku berjanji akan tegar ketika bersamamu. Hati dan fikiranku telah kulatih sedemikian rupa untukmu. Agar ketika engkau kembali dan berniat pergi lagi seperti dahulu, aku tak akan rapuh seperti layaknya rambut rontok yang seenaknya jatuh dari kulit kepalaku.

Harus berapa kali aku mengemis agar kau datang padaku, cinta??
Tidakkah cukup semua yang tlah kuberikan padamu??
Masih tak cukupkah segala alasan yang kukatakan padamu demi kau agar kembali ke rumah hatimu??

Aku menunggumu tanpa batas waktu. Hingga suatu saat kau kembali dan 
mengatakan "menikahlah denganku!"

Aku Ingin Pergi!

Kepada Yth.
CINTA
di -
    kamu


CINTA, aku ingin pergi! Pergi dari tempat ini dan meninggalkan semua yang terjadi!
Aku ingin berlari ke tempat dimana tak ada lagi cobaan hati seperti hari ini!

CINTA, masih ingatkah kau tempat pertemuan pertama kita waktu dulu?
Kau adalah yang pertama menyambutku dengan senyuman ketika derai air mataku tak kunjung berhenti.
Aku ingin pergi ke tempat itu dan mengulang semuanya agar tak sakit seperti ini.
Aku ingin memperbaiki segala kebodohan yang kulakukan padamu waktu itu.

CINTA, aku sedang mengalami krisis hati.
Apa yang kulakukan sehingga jadi seperti ini!
Aku butuh kau, CINTA!
Aku butuh kau sebagai bejana kesedihanku! Aku butuh kau untuk mengusap derai air mata di hatiku hari ini, saat ini juga!

CINTA, bawa aku lari! Bawa aku pergi dari tempat ini, dimana kita dapat memulai hidup baru tanpa semua ini.

Kau tahu, aku tak melakukan apapun hari ini! Berdiam diri di dalam kamar dan hanya menonton film yang sudah entah keberapa kali kuputar.
Tapi kau tak ada disini untuk menghiburku.

Hatiku penat dan penuh beban yang harus kukeluarkan. Tapi aku tak lagi memiliki bejanamu.

CINTA, kutuk aku agar aku terus mencintaimu dan tutuplah mata hati serta semua indra lain dari CINTA semu selain kau.

Kamis, 04 Juli 2013

Surat Kedua

Kepada Yth.
CINTA
di -
    kamu


Selamat pagi, CINTA.
Last night, aku bermimpi bersamamu.
Engkau kembali hadir ke rumah hati milikmu dan memberikan kunci itu padaku.
Tapi kali ini engkau hadir dengan bentuk yang berbeda, CINTA.
Mengapa kau menyapukan blush on pada pipimu?
Mengapa kau berikan perona mata di daun matamu?
Mengapa kau warnai bibirmu dengan pewarna orange?
Dan ketika aku bertanya demikian, lagi-lagi kau menghindar.

Tadi malam kau kembali ke rumah hatimu dengan membawa seorang teman lucu.
Tapi, sepertinya kesulitan ada di depan mata..
Kakakku tak menyetujui kau kembali menempati rumah hatimu seperti dulu lagi.
Kau adalah sosok mengerikan yang selalu merendahkanku, katanya.
Selalu akan mempermainkanku jika nanti aku kembali mengizinkanmu pulang, katanya.
Aku takut benar adanya, CINTA.

CINTA, aku menunggumu. Seribu atau sepuluh ribu hari lagi..Aku tetap berjaga di teras rumah hatimu yang tak lain adalah hatiku.
Aku menunggumu pulang seperti dulu.

Yours.

Kepada Cinta

Aku bosan. Sepi, sendiri, aku ragu. Menunggumu dengan penantian tiada berujung seperti ini.
Kepada cinta, kau kemana?
Kenapa kau tak hadir juga dalam hidupku?
Aku hampir bosan mencarimu..

Kepada Yth.
CINTA
dimanapun kamu berada

Kepada CINTA, 
aku tak paham arti dari untaian hurufmu.
Semua kerelaan yang dikorbankan setiap anak manusia demimu membuatku semakin bertanya seperti apa kamu.
Aku hampir putus asa mencarimu, CINTA.
Telah kulongohkan kepala ke bawah kolong ranjang hingga alas kaki untuk mencari keberadaanmu - tapi tak kutemukan.

Aku hampir bosan mencarimu, CINTA.
Ketika manusia lain hidup dalam khayalan mereka bersamamu, aku harus menghadapi realita bahwa kau sedang tak menginginkanku.

Ketika manusia lain dengan lancarnya menggoreskan pena pada secarik kertas dan mengiangkan puisi kemesraan tentangmu, aku haru menerima kenyataan bahwa penaku bernafas pun tidak.

Barisan pepohonan di teras belakang rumahku?? Kurasa mereka telah bosan dengan seribu satu ocehan tak bermutu yang kukeluhkan tiap sore di ayunan kayu lapuk yang bergelantungan di dahan.
Disaat manusia lain begitu mudahnya menemukanmu, aku bahkan harus rela bersabar terus mencari dimana kamu, cinta. 

Aku harus kemana, cinta?? Bertahun-tahun kau kucari, tapi tak kutemukan.