Wanita malang itu masih duduk terpekur di meja
dekat jendela kamarnya sambil menatap matahari yang sedari tadi tak menampakkan
jati dirinya di langit milik Sang Kuasa. Penanya sudah tak dapat lagi
mengeluarkan tinta dengan benar. Tumpukan kertas berwarna pink sudah tak tertata
lagi di atas mejanya. Sebagian ada di tong sampah yang terletak di bawah kolong
meja mungilnya dan sebagian lagi masih berserakan di lantai keramik kamarnya.
Ya! Benar. Wanita itu adalah aku. Hari demi hari
aku menunggu cinta pulang ke rumah hatiku. Sudah seribu hari yang silam ia
memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku. Meninggalkanku tanpa rencana dan
membiarkanku berdua dengan sendu.
Aku lelah mencarimu yang bersembunyi di negeri
khayalan, cinta. Kaki-kaki hatiku mulai berat untuk bergerak maju dan hati ini
tak lagi kuasa memompakan nafas kecintaannya terhadapmu, cinta.
Berulang kali kukatakan bahwa aku ingin Kau!!
Seribu surat berwarna merah jambu yang kulayangkan padamu melalui hujan pun tak kau acuhkan.
Ia menghilang tanpa menyampaikan surat
yang kuberikan agar sampai kepadamu, kau tahu!!
Tapi tak sekali pun kau
membalas suratku.
Pernah sekali kau datang menghampiriku waktu itu.
Kufikir kau
akan menetap bersamaku disini.
Tapi ternyata semua hanya basa-basimu yang
membuatku hanyut bersama sendu untuk yang kesekian kali.
Berulang kali aku telah membiarkanmu
menggoreskan luka di dasar hatiku. Berulang kali kau telah kubiarkan untuk
memperlakukanku bagai budak yang terus mematuhi keinginanmu. Berulang kali
telah kuberikan tubuhku demi hasrat yang kau inginkan. Tapi kau tetap pergi.
Cinta, aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang
semu karenamu. Mulutku telah terkotori oleh umpatan-umpatan keji kepada para
pujangga yang sedang dimabuk cinta di luar sana.
Aku mengganggap mereka rendah karenamu, cinta!
Aku menganggap mereka serba berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu semua
karenamu, cinta. Kaulah yang membuatku berfikiran buruk terhadap setiap manusia yang sedang jatuh cinta.
Aku membencimu karena kau tak pernah lagi mau
menghampiriku. Aku membencimu karena kau tak lagi ingin menyapaku. Aku
membencimu karena kau terlalu sibuk dengan manusia lain dan tak
memperdulikanku.
Kau tahu, aku rela setiap hari menungguimu
kembali di depan pintu. Pagarnya tak terkunci. Kubiarkan terbuka lebar agar kau
dapat dengan leluasa masuk ke dalam rumahmu.
Aku tak berjanji untuk kembali menjadi budakmu. Paling tidak aku dapat menjadi lebih baik dari itu.
Aku berjanji akan tegar ketika bersamamu. Hati
dan fikiranku telah kulatih sedemikian rupa untukmu. Agar ketika engkau kembali
dan berniat pergi lagi seperti dahulu, aku tak akan rapuh seperti
layaknya rambut rontok yang seenaknya jatuh dari kulit kepalaku.
Harus berapa kali aku mengemis agar kau datang
padaku, cinta??
Tidakkah cukup semua yang tlah kuberikan padamu??
Masih tak cukupkah segala alasan yang kukatakan padamu demi kau agar kembali ke rumah hatimu??
Aku menunggumu tanpa batas waktu. Hingga suatu saat kau kembali dan
mengatakan "menikahlah denganku!"