Jumat, 05 Juli 2013

PLEASE, COME BACK!



Wanita malang itu masih duduk terpekur di meja dekat jendela kamarnya sambil menatap matahari yang sedari tadi tak menampakkan jati dirinya di langit milik Sang Kuasa. Penanya sudah tak dapat lagi mengeluarkan tinta dengan benar. Tumpukan kertas berwarna pink sudah tak tertata lagi di atas mejanya. Sebagian ada di tong sampah yang terletak di bawah kolong meja mungilnya dan sebagian lagi masih berserakan di lantai keramik kamarnya.

Ya! Benar. Wanita itu adalah aku. Hari demi hari aku menunggu cinta pulang ke rumah hatiku. Sudah seribu hari yang silam ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku. Meninggalkanku tanpa rencana dan membiarkanku berdua dengan sendu.

Aku lelah mencarimu yang bersembunyi di negeri khayalan, cinta. Kaki-kaki hatiku mulai berat untuk bergerak maju dan hati ini tak lagi kuasa memompakan nafas kecintaannya terhadapmu, cinta.

Berulang kali kukatakan bahwa aku ingin Kau!! Seribu surat berwarna merah jambu yang kulayangkan padamu melalui hujan pun tak kau acuhkan.

Ia menghilang tanpa menyampaikan surat yang kuberikan agar sampai kepadamu, kau tahu!! 
Tapi tak sekali pun kau membalas suratku. 
Pernah sekali kau datang menghampiriku waktu itu. 
Kufikir kau akan menetap bersamaku disini. 
Tapi ternyata semua hanya basa-basimu yang membuatku hanyut bersama sendu untuk yang kesekian kali.

Berulang kali aku telah membiarkanmu menggoreskan luka di dasar hatiku. Berulang kali kau telah kubiarkan untuk memperlakukanku bagai budak yang terus mematuhi keinginanmu. Berulang kali telah kuberikan tubuhku demi hasrat yang kau inginkan. Tapi kau tetap pergi.

Cinta, aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang semu karenamu. Mulutku telah terkotori oleh umpatan-umpatan keji kepada para pujangga yang sedang dimabuk cinta di luar sana.
Aku mengganggap mereka rendah karenamu, cinta! Aku menganggap mereka serba berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu semua karenamu, cinta. Kaulah yang membuatku berfikiran buruk terhadap setiap manusia yang sedang jatuh cinta.

Aku membencimu karena kau tak pernah lagi mau menghampiriku. Aku membencimu karena kau tak lagi ingin menyapaku. Aku membencimu karena kau terlalu sibuk dengan manusia lain dan tak memperdulikanku.

Kau tahu, aku rela setiap hari menungguimu kembali di depan pintu. Pagarnya tak terkunci. Kubiarkan terbuka lebar agar kau dapat dengan leluasa masuk ke dalam rumahmu.
Aku tak berjanji untuk kembali menjadi budakmu. Paling tidak aku dapat menjadi lebih baik dari itu.

Aku berjanji akan tegar ketika bersamamu. Hati dan fikiranku telah kulatih sedemikian rupa untukmu. Agar ketika engkau kembali dan berniat pergi lagi seperti dahulu, aku tak akan rapuh seperti layaknya rambut rontok yang seenaknya jatuh dari kulit kepalaku.

Harus berapa kali aku mengemis agar kau datang padaku, cinta??
Tidakkah cukup semua yang tlah kuberikan padamu??
Masih tak cukupkah segala alasan yang kukatakan padamu demi kau agar kembali ke rumah hatimu??

Aku menunggumu tanpa batas waktu. Hingga suatu saat kau kembali dan 
mengatakan "menikahlah denganku!"