Apa kabar?
Kuharap kau baik-baik saja di peratapan rindu.
Aku menunggumu.
Disini, bersama waktu.
Aku benci ketika aku menyapamu tapi kau tak membalas sapaanku.
Tak mengapa.
Aku akan terus mencoba.
Aku tak suka ketika otak dan hatiku dengan cerdiknya selalu bersekongkol untuk merinduimu.
Untuk apa aku melakukan hal itu! Sedangkan kau tak sedikit pun berniat untuk memikirkanku.
Tak mengapa.
Aku akan membiarkanmu berkeliaran di setiap sudut fikiranku hingga kau hilang dengan sendirinya.
Kau tahu artinya sakit bagiku?
Adalah ketika aku setiap kali menyapamu dengan senyum tulusku tapi kau malah berulang kali membalasku dengan ketidak acuhanmu.
Aku telah menitipkan rindu pada waktu.
Sedangkan kau malah menitipkan sendu padaku.
Aku tak ingin memeliharanya.
Karena ia hanya akan terus memberikan duka.
Kau ingat ketika kita duduk di gondola cinta dahulu?
Kau menggenggam tanganku ketika aku hampir terjatuh.
Aku ingat itu.
"Maaf, aku tak mempunyai sedikit pun rasa sayang lagi padamu."
Itu adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku.
Tak mengapa.
Aku akan menunggu.
Bahkan jika harus menunggu hingga seribu atau pun sepuluh ribu hari lagi.
Aku akan membiarkanmu terbang bebas, jika itu maumu.
Tak mengapa.
Aku akan memberikanmu batas waktu untuk kembali padaku.
Yours.



