Selasa, 09 Juli 2013

Tentang Aku

Assalamualaikum, cinta.
Apa kabar?
Kuharap kau baik-baik saja di peratapan rindu.
Aku menunggumu. 
Disini, bersama waktu.

Aku benci ketika aku menyapamu tapi kau tak membalas sapaanku.
Tak mengapa. 
Aku akan terus mencoba.

Aku tak suka ketika otak dan hatiku dengan cerdiknya selalu bersekongkol untuk merinduimu.
Untuk apa aku melakukan hal itu! Sedangkan kau tak sedikit pun berniat untuk memikirkanku.
Tak mengapa.
Aku akan membiarkanmu berkeliaran di setiap sudut fikiranku hingga kau hilang dengan sendirinya.

Kau tahu artinya sakit bagiku?
Adalah ketika aku setiap kali menyapamu dengan senyum tulusku tapi kau malah berulang kali membalasku dengan ketidak acuhanmu.

Aku telah menitipkan rindu pada waktu. 
Sedangkan kau malah menitipkan sendu padaku.
Aku tak ingin memeliharanya. 
Karena ia hanya akan terus memberikan duka.

Kau ingat ketika kita duduk di gondola cinta dahulu?
Kau menggenggam tanganku ketika aku hampir terjatuh.
Aku ingat itu.

"Maaf, aku tak mempunyai sedikit pun rasa sayang lagi padamu."

Itu adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku.
Tak mengapa.
Aku akan menunggu. 
Bahkan jika harus menunggu hingga seribu atau pun sepuluh ribu hari lagi.

Aku akan membiarkanmu terbang bebas, jika itu maumu.
Tak mengapa.
Aku akan memberikanmu batas waktu untuk kembali padaku. 

Yours.


Rindu itu...


Kau tahu apa itu rindu?
Rindu itu.. 
Kamu.

Kalau cinta? Kau tau apa artinya?
Cinta itu...
Korelasi positif antara kau dan aku dan menjadi "kita".

Ruang lingkup duniaku, ya kamu.

Aku cinta kamu, titik.
Kamu adalah nilai absolut yang tak dapat kuubah lagi.

Ruang Tanpa Udara


Lagi-lagi aku terus saja menuliskan surat padamu yang walaupun kutahu kau entah kapan akan membalas suratku. Atau mungkin takkan pernah membalasnya..
Lembaran kertas berwarna merah jambu yang selalu setia menyampaikan pesan rinduku padamu hampir habis.
Aku tak sanggup menunggu lebih lama lagi, cinta.

Hey, kau tahu. Aku kehilangan sebuah kunci berwarna emas dan berukir hati di pegangannya. 
Aku tahu kunci itu masih ada padamu.
Kau bisa membuka pintu rumahmu kapan saja, jika kau ingin.

Umurku kian menua dan aku tak sabar lagi untuk menemuimu!
Kau tahu, ini sudah seribu hari lebih seminggu kau berlalu tanpa menemuiku.
Jangankan menemui.. Melirikkan matamu padaku saja kau tak mau.

Aku merindukanmu. 
Sama seperti manusia lain yang sibuk memamerkan kecintaannya terhadapmu.. Aku juga ingin itu, cinta.
Aku menginginkanmu tanpa basa basi. 
Aku menginginkanmu sama besarnya dengan keinginanku untuk terus menjalani hidup demi menunggumu setiap waktu.

Aku hampir bosan, jika kau ingin tahu.
Harus berapa ribu kali lagi aku mengirimkan surat padamu agar kau membalas suratku??
Bahkan sunyi yang setiap saat kurasuki pesanku tak ingin lagi mendengar lagu sendu.
Harus berapa ribu hari lagi kulalui menunggu kehadiranmu pulang seperti dulu??

Aku masih menunggumu. 
Aku tetap menunggumu di persimpangan jalanku. 
Aku menunggumu di setiap doaku.
Aku menunggumu di barisan helaan nafasku.

Kau tahu mengapa?
Karena kau telah menitipkan luka padaku.
Aku sudah menjaganya selama seribu lebih tujuh hari untukmu.
Dan kini aku ingin kau mengambilnya kembali dariku.

Hatiku mulai membiru karena beku.
Aku telah mencoba memberi plang besar di dalamnya yang bertuliskan "dijual".
Tetapi tak satu cinta pun berminat membelinya.
Ruangan demi ruangan di balik pintu yang bernama hati itu telah menghitam.
Tiada sedikit pun cahaya kehangatan disana.

Sampai kapan kau membiarkanku kehilangan asa?
Membiarkanku menjadi gelandang di dunia khayalanmu?
 
Sekali ini saja, pulanglah ke rumah hatimu dan sapa aku.

Yours.


Sabtu, 06 Juli 2013

Kekuatan Cinta!


Wahai duka, aku tak lagi memerlukan kehadiranmu di sudut hatiku.
Aku telah memecatmu dari pekerjaanmu semula sebagai pembuat produksi derai air mata.
Aku telah memutuskan untuk menghadapi sang pembuat masalah dengan diriku sendiri. 
Mengapa? Karena aku akan rapuh jika berteman denganmu. 
Sendu akan selalu setia menemaniku, karenamu.
Hari-hariku akan penuh dengan air muka kesedihan dan lara.

Aku tiada pernah memintamu hadir dan menemani sisi gelapku.
Tapi tiba-tiba kau sudah datang saja dan membawa bencana.
Ya! Kau adalah pembawa bencana dalam aliran masaku.
Kau adalah teman sang penyakit hati yang tak lain adalah si pemikir buruk sangka dan ego.

Aku tak inginkan duka.. Maka aku harus cari bahagia.
Dengan apa?
Dengan memberikan cinta.
Pada siapa?
Pada engkau.. Bunda.

Aku bahkan memilih untuk lari dan menjauh darimu. Membiarkan segala masa kelam tetap berada disitu tanpa berusaha kusapu.

Kepalaku melebihi kerasnya batu yang selalu menjaga kerasnya untuk tak memohon maaf padamu.

Bersimpuh aku bersimpuh. Padamu Tuhanku. 
Ampuni aku.

Aku sudah menandatangani kontrak seumur hidup dengan nyawaku sebagai taruhannya pada Sang Kuasa untuk terus mencintaimu, agar kau pun tetap mencintaiku.

Jumat, 05 Juli 2013

PLEASE, COME BACK!



Wanita malang itu masih duduk terpekur di meja dekat jendela kamarnya sambil menatap matahari yang sedari tadi tak menampakkan jati dirinya di langit milik Sang Kuasa. Penanya sudah tak dapat lagi mengeluarkan tinta dengan benar. Tumpukan kertas berwarna pink sudah tak tertata lagi di atas mejanya. Sebagian ada di tong sampah yang terletak di bawah kolong meja mungilnya dan sebagian lagi masih berserakan di lantai keramik kamarnya.

Ya! Benar. Wanita itu adalah aku. Hari demi hari aku menunggu cinta pulang ke rumah hatiku. Sudah seribu hari yang silam ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku. Meninggalkanku tanpa rencana dan membiarkanku berdua dengan sendu.

Aku lelah mencarimu yang bersembunyi di negeri khayalan, cinta. Kaki-kaki hatiku mulai berat untuk bergerak maju dan hati ini tak lagi kuasa memompakan nafas kecintaannya terhadapmu, cinta.

Berulang kali kukatakan bahwa aku ingin Kau!! Seribu surat berwarna merah jambu yang kulayangkan padamu melalui hujan pun tak kau acuhkan.

Ia menghilang tanpa menyampaikan surat yang kuberikan agar sampai kepadamu, kau tahu!! 
Tapi tak sekali pun kau membalas suratku. 
Pernah sekali kau datang menghampiriku waktu itu. 
Kufikir kau akan menetap bersamaku disini. 
Tapi ternyata semua hanya basa-basimu yang membuatku hanyut bersama sendu untuk yang kesekian kali.

Berulang kali aku telah membiarkanmu menggoreskan luka di dasar hatiku. Berulang kali kau telah kubiarkan untuk memperlakukanku bagai budak yang terus mematuhi keinginanmu. Berulang kali telah kuberikan tubuhku demi hasrat yang kau inginkan. Tapi kau tetap pergi.

Cinta, aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang semu karenamu. Mulutku telah terkotori oleh umpatan-umpatan keji kepada para pujangga yang sedang dimabuk cinta di luar sana.
Aku mengganggap mereka rendah karenamu, cinta! Aku menganggap mereka serba berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu semua karenamu, cinta. Kaulah yang membuatku berfikiran buruk terhadap setiap manusia yang sedang jatuh cinta.

Aku membencimu karena kau tak pernah lagi mau menghampiriku. Aku membencimu karena kau tak lagi ingin menyapaku. Aku membencimu karena kau terlalu sibuk dengan manusia lain dan tak memperdulikanku.

Kau tahu, aku rela setiap hari menungguimu kembali di depan pintu. Pagarnya tak terkunci. Kubiarkan terbuka lebar agar kau dapat dengan leluasa masuk ke dalam rumahmu.
Aku tak berjanji untuk kembali menjadi budakmu. Paling tidak aku dapat menjadi lebih baik dari itu.

Aku berjanji akan tegar ketika bersamamu. Hati dan fikiranku telah kulatih sedemikian rupa untukmu. Agar ketika engkau kembali dan berniat pergi lagi seperti dahulu, aku tak akan rapuh seperti layaknya rambut rontok yang seenaknya jatuh dari kulit kepalaku.

Harus berapa kali aku mengemis agar kau datang padaku, cinta??
Tidakkah cukup semua yang tlah kuberikan padamu??
Masih tak cukupkah segala alasan yang kukatakan padamu demi kau agar kembali ke rumah hatimu??

Aku menunggumu tanpa batas waktu. Hingga suatu saat kau kembali dan 
mengatakan "menikahlah denganku!"

Aku Ingin Pergi!

Kepada Yth.
CINTA
di -
    kamu


CINTA, aku ingin pergi! Pergi dari tempat ini dan meninggalkan semua yang terjadi!
Aku ingin berlari ke tempat dimana tak ada lagi cobaan hati seperti hari ini!

CINTA, masih ingatkah kau tempat pertemuan pertama kita waktu dulu?
Kau adalah yang pertama menyambutku dengan senyuman ketika derai air mataku tak kunjung berhenti.
Aku ingin pergi ke tempat itu dan mengulang semuanya agar tak sakit seperti ini.
Aku ingin memperbaiki segala kebodohan yang kulakukan padamu waktu itu.

CINTA, aku sedang mengalami krisis hati.
Apa yang kulakukan sehingga jadi seperti ini!
Aku butuh kau, CINTA!
Aku butuh kau sebagai bejana kesedihanku! Aku butuh kau untuk mengusap derai air mata di hatiku hari ini, saat ini juga!

CINTA, bawa aku lari! Bawa aku pergi dari tempat ini, dimana kita dapat memulai hidup baru tanpa semua ini.

Kau tahu, aku tak melakukan apapun hari ini! Berdiam diri di dalam kamar dan hanya menonton film yang sudah entah keberapa kali kuputar.
Tapi kau tak ada disini untuk menghiburku.

Hatiku penat dan penuh beban yang harus kukeluarkan. Tapi aku tak lagi memiliki bejanamu.

CINTA, kutuk aku agar aku terus mencintaimu dan tutuplah mata hati serta semua indra lain dari CINTA semu selain kau.

Kamis, 04 Juli 2013

Surat Kedua

Kepada Yth.
CINTA
di -
    kamu


Selamat pagi, CINTA.
Last night, aku bermimpi bersamamu.
Engkau kembali hadir ke rumah hati milikmu dan memberikan kunci itu padaku.
Tapi kali ini engkau hadir dengan bentuk yang berbeda, CINTA.
Mengapa kau menyapukan blush on pada pipimu?
Mengapa kau berikan perona mata di daun matamu?
Mengapa kau warnai bibirmu dengan pewarna orange?
Dan ketika aku bertanya demikian, lagi-lagi kau menghindar.

Tadi malam kau kembali ke rumah hatimu dengan membawa seorang teman lucu.
Tapi, sepertinya kesulitan ada di depan mata..
Kakakku tak menyetujui kau kembali menempati rumah hatimu seperti dulu lagi.
Kau adalah sosok mengerikan yang selalu merendahkanku, katanya.
Selalu akan mempermainkanku jika nanti aku kembali mengizinkanmu pulang, katanya.
Aku takut benar adanya, CINTA.

CINTA, aku menunggumu. Seribu atau sepuluh ribu hari lagi..Aku tetap berjaga di teras rumah hatimu yang tak lain adalah hatiku.
Aku menunggumu pulang seperti dulu.

Yours.

Kepada Cinta

Aku bosan. Sepi, sendiri, aku ragu. Menunggumu dengan penantian tiada berujung seperti ini.
Kepada cinta, kau kemana?
Kenapa kau tak hadir juga dalam hidupku?
Aku hampir bosan mencarimu..

Kepada Yth.
CINTA
dimanapun kamu berada

Kepada CINTA, 
aku tak paham arti dari untaian hurufmu.
Semua kerelaan yang dikorbankan setiap anak manusia demimu membuatku semakin bertanya seperti apa kamu.
Aku hampir putus asa mencarimu, CINTA.
Telah kulongohkan kepala ke bawah kolong ranjang hingga alas kaki untuk mencari keberadaanmu - tapi tak kutemukan.

Aku hampir bosan mencarimu, CINTA.
Ketika manusia lain hidup dalam khayalan mereka bersamamu, aku harus menghadapi realita bahwa kau sedang tak menginginkanku.

Ketika manusia lain dengan lancarnya menggoreskan pena pada secarik kertas dan mengiangkan puisi kemesraan tentangmu, aku haru menerima kenyataan bahwa penaku bernafas pun tidak.

Barisan pepohonan di teras belakang rumahku?? Kurasa mereka telah bosan dengan seribu satu ocehan tak bermutu yang kukeluhkan tiap sore di ayunan kayu lapuk yang bergelantungan di dahan.
Disaat manusia lain begitu mudahnya menemukanmu, aku bahkan harus rela bersabar terus mencari dimana kamu, cinta. 

Aku harus kemana, cinta?? Bertahun-tahun kau kucari, tapi tak kutemukan.