Awan sedang bermalas-malasan di sudut langit sambil melihat ke seluruh penjuru bumi.
Angin baru saja akan melintas di atas samudera dan melihat Awan termenung di sudut langit.
Melihat temannya muram, Angin pun mendekatinya dan berkata kepada awan "Kenapa kau begitu murung, teman? Apa yang sedang terjadi?"
Awan yang kaget menyadari keberadaan angin pun terperanjat. "Oh.. Kau.." Jawabnya sambil menoleh sebentar ke arah angin lalu kembali membuang muka.
"Ada apa denganmu?" Tanya angin sekali lagi yang kali ini sembari mengguncang awan pelan.
"Kau benar2 ingin tahu apa yang terjadi?" Tanya awan tak bersemangat. Wajahnya masih muram.
Dengan semangatnya, angin mengangguk cepat.
Awan menarik dan menghembuskan nafas pelan sembari mengambil aba2 untuk bercerita.
"Aku sedang kesal pada hujan. Seharian ini iya tak menyapaku dan membiarkanku bermain dengan gersang."
"Mengapa demikian?" Angin kali ini duduk di samping awan sambil melipat kedua kakinya dan menumpu kepalanya dengan tangan kanannya diatas kedua kakinya.
Awan menaikkan kedua bahunya. "Entahlah. Ia selalu begitu. Selalu melupakanku setiap kali ia berkumpul dengan petir dan guntur."
"..."
"Padahal aku mencemaskannya." Sambung awan lagi.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau yang lebih dulu menghubunginya saja?"
"Aku?" Tanya awan dengan nada tinggi dan terbelalak kaget. "Tidak akan!" Lanjutnya kesal. "Aku masih kesal setengah mati dengannya."
"Tapi ini sudah beberapa hari kalian tidak bertegur sapa. Tidakkah kau rindu dengannya?"
"Dia harus menghubungiku lebih dulu!"
"Bagaimana jika ternyata ia juga menunggumu untuk menghubunginya lebih dulu karena ia takut kau akan lebih marah jika ia menghubungimu lebih dulu?"
"Tidak akan!!" Awan berkeras.
"Kalau begitu, kau harus bersiap2. Lara sebentar lagi akan datang menghampirimu. Ia akan terus menjadi teman setiamu."
"Aku tidak mau berteman dengan lara!"
"Maka dari itu hubungi dia."
"Tidak!!"
Angin menyerah. "Baiklah kalau itu maumu. Aku harus pergi. Aku akan berhembus ke arah barat. Kau tau dimana jika kau membutuhkanku." Kata angin bergegas pergi.
Malam semakin larut dan hujan tak juga datang. Sedangkan awan masih berdiri tegak di tengah langit di saat awan2 lain tengah tertidur pulas.
Dulu hujan pernah menyuruh awan untuk tidak terus memarahinya. Tidak lagi cerewet dan menuntut ini itu padanya.
Maka dari itu awan pun akhirnya lebih memilih diam ketimbang marah tak tentu arah pada hujan.
Ia sadar bahwa ia rindu. Hatinya masih sakit setiap mengingat kesalahan hujan. Tapi ia rindu. Rindu yang teramat sangat kini tengah menjalari hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar