Kamis, 18 Desember 2014

What happen with you if something happen to me?

"Apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Tanya sang petir.

"Its uniqly you." Jawab hujan.

"Apa yang kamu maksud dengan uniknya aku? Bahkan kamu tahu sendiri sifatku yang selalu meledak ledak jika marah. Bagaimana mungkin hal itu membuatku jadi unik?" Petir bingung.

"Kamu unik karena kamu sanggup membuatku mencintai dirimu lebih dari mencintai diriku sendiri." Jelas sang hujan.

"Lalu.. Perubahan apa yang telah terjadi dalam hidupmu sebelum dan setelah bersamaku?" Petir kembali bertanya.

Hujan diam sambil mengernyitkan kening. Mencoba mengingat ingat sesuatu. "Kamu telah banyak merubahku."
"Merubahku dari yang kaku menjadi lebih riang dan santai."
"Merubahku menjadi sosok yang memiliki tanggung jawab. Bukan hanya terhadap pekerjaan dan keluargaku. Tapi juga terhadapmu. Seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku."
"Merubahku menjadi lebih adil terhadapmu dan kehidupanku."
"Merubahku menjadi diri sendiri."
"Merubahku menjadi sosok yang lebih sabar."
"Dan 1 hal yang terpenting diantara lainnya adalah..." Hujan menggantung kata katanya.

"Apa itu?" Petir penasaran.

"Kamu adalah sosok yang membuatku berfikir untuk ke depan." Jawabnya sambil mencium kening sang petir, kekasihnya.

"Lalu.. Jika aku tiada. Apa yang akan terjadi padamu?" Petir kembali memberikan pertanyaan.

"Kamu lihat gunung itu?" Hujan menunjuk  sebuah gunung merapi yang berdiri gagah yang penuh dengan pepohonan rindang.

"Ya, aku lihat."

"Kamu tahu apa yang terjadi dengan sang gunung jika lahar panas keluar dari perutnya?"

Petir diam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir sang hujan.

"Gunung itu akan luluh lantak. Pepohonan layu bahkan mati. Debu vulkanik bertebaran kemana mana. Ia menjadi luluh lantak dan tak berarti. Hancur." Jawab hujan sambil menatap kedua mata petir, kekasihnya.

Suasana seketika membisu.

"Bagaimana denganmu? Apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Hujan balik bertanya.

Petir menghembuskan nafasnya panjang. "Entahlah. Aku tak memiliki alasan logis mengapa aku jatuh cinta padamu." Jawab petir mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru bumi.

"Kalau begitu.. Perubahan apa yang telah terjadi padamu sebelum dan sesudah adanya aku?"

"Kamu merubah hampir semuanya." Jawab petir. Ia mulai menjabarkan satu per satu.
"Aku menjadi sosok yang lebih sabar memuntahkan amarah."
"Aku menjadi lebih perduli dengan adanya seseorang disampingku."

"Lalu?"

"Kamu tahu? Kamu adalah satu satunya pendamping yang paling sering membuatku meneteskan air mata?" Petir berkata.

"Itu karena kamu menyayangiku, kan." Jawab hujan.

Petir mengangguk pelan.

"Lalu.. Apa yang akan terjadi padamu jika sesuatu terjadi padaku?"

"Aku akan kehilangan separuh jiwaku.."

That's all.

Selasa, 16 Desember 2014

Korelasi Hujan dan Petir

Suatu sore yang kelabu di atas bumi.
Awan sedang bermalas-malasan di sudut langit sambil melihat ke seluruh penjuru bumi.
Angin baru saja akan melintas di atas samudera dan melihat Awan termenung di sudut langit.
Melihat temannya muram, Angin pun mendekatinya dan berkata kepada awan "Kenapa kau begitu murung, teman? Apa yang sedang terjadi?"

Awan yang kaget menyadari keberadaan angin pun terperanjat. "Oh.. Kau.." Jawabnya sambil menoleh sebentar ke arah angin lalu kembali membuang muka.

"Ada apa denganmu?" Tanya angin sekali lagi yang kali ini sembari mengguncang awan pelan.

"Kau benar2 ingin tahu apa yang terjadi?" Tanya awan tak bersemangat. Wajahnya masih muram.

Dengan semangatnya, angin mengangguk cepat.
Awan menarik dan menghembuskan nafas pelan sembari mengambil aba2 untuk bercerita.
"Aku sedang kesal pada hujan. Seharian ini iya tak menyapaku dan membiarkanku bermain dengan gersang."

"Mengapa demikian?" Angin kali ini duduk di samping awan sambil melipat kedua kakinya dan menumpu kepalanya dengan tangan kanannya diatas kedua kakinya.

Awan menaikkan kedua bahunya. "Entahlah. Ia selalu begitu. Selalu melupakanku setiap kali ia berkumpul dengan petir dan guntur."

"..."

"Padahal aku mencemaskannya." Sambung awan lagi.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau yang lebih dulu menghubunginya saja?"

"Aku?" Tanya awan dengan nada tinggi dan terbelalak kaget. "Tidak akan!" Lanjutnya kesal. "Aku masih kesal setengah mati dengannya."

"Tapi ini sudah beberapa hari kalian tidak bertegur sapa. Tidakkah kau rindu dengannya?"

"Dia harus menghubungiku lebih dulu!"

"Bagaimana jika ternyata ia juga menunggumu untuk menghubunginya lebih dulu karena ia takut kau akan lebih marah jika ia menghubungimu lebih dulu?"

"Tidak akan!!" Awan berkeras.

"Kalau begitu, kau harus bersiap2. Lara sebentar lagi akan datang menghampirimu. Ia akan terus menjadi teman setiamu."

"Aku tidak mau berteman dengan lara!"

"Maka dari itu hubungi dia."

"Tidak!!"

Angin menyerah. "Baiklah kalau itu maumu. Aku harus pergi. Aku akan berhembus ke arah barat. Kau tau dimana jika kau membutuhkanku." Kata angin bergegas pergi.

Malam semakin larut dan hujan tak juga datang. Sedangkan awan masih berdiri tegak di tengah langit di saat awan2 lain tengah tertidur pulas.
Dulu hujan pernah menyuruh awan untuk tidak terus memarahinya. Tidak lagi cerewet dan menuntut ini itu padanya.
Maka dari itu awan pun akhirnya lebih memilih diam ketimbang marah tak tentu arah pada hujan.
Ia sadar bahwa ia rindu. Hatinya masih sakit setiap mengingat kesalahan hujan. Tapi ia rindu. Rindu yang teramat sangat kini tengah menjalari hatinya.