"Its uniqly you." Jawab hujan.
"Apa yang kamu maksud dengan uniknya aku? Bahkan kamu tahu sendiri sifatku yang selalu meledak ledak jika marah. Bagaimana mungkin hal itu membuatku jadi unik?" Petir bingung.
"Kamu unik karena kamu sanggup membuatku mencintai dirimu lebih dari mencintai diriku sendiri." Jelas sang hujan.
"Lalu.. Perubahan apa yang telah terjadi dalam hidupmu sebelum dan setelah bersamaku?" Petir kembali bertanya.
Hujan diam sambil mengernyitkan kening. Mencoba mengingat ingat sesuatu. "Kamu telah banyak merubahku."
"Merubahku dari yang kaku menjadi lebih riang dan santai."
"Merubahku menjadi sosok yang memiliki tanggung jawab. Bukan hanya terhadap pekerjaan dan keluargaku. Tapi juga terhadapmu. Seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku."
"Merubahku menjadi lebih adil terhadapmu dan kehidupanku."
"Merubahku menjadi diri sendiri."
"Merubahku menjadi sosok yang lebih sabar."
"Dan 1 hal yang terpenting diantara lainnya adalah..." Hujan menggantung kata katanya.
"Apa itu?" Petir penasaran.
"Kamu adalah sosok yang membuatku berfikir untuk ke depan." Jawabnya sambil mencium kening sang petir, kekasihnya.
"Lalu.. Jika aku tiada. Apa yang akan terjadi padamu?" Petir kembali memberikan pertanyaan.
"Kamu lihat gunung itu?" Hujan menunjuk sebuah gunung merapi yang berdiri gagah yang penuh dengan pepohonan rindang.
"Ya, aku lihat."
"Kamu tahu apa yang terjadi dengan sang gunung jika lahar panas keluar dari perutnya?"
Petir diam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir sang hujan.
"Gunung itu akan luluh lantak. Pepohonan layu bahkan mati. Debu vulkanik bertebaran kemana mana. Ia menjadi luluh lantak dan tak berarti. Hancur." Jawab hujan sambil menatap kedua mata petir, kekasihnya.
Suasana seketika membisu.
"Bagaimana denganmu? Apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Hujan balik bertanya.
Petir menghembuskan nafasnya panjang. "Entahlah. Aku tak memiliki alasan logis mengapa aku jatuh cinta padamu." Jawab petir mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru bumi.
"Kalau begitu.. Perubahan apa yang telah terjadi padamu sebelum dan sesudah adanya aku?"
"Kamu merubah hampir semuanya." Jawab petir. Ia mulai menjabarkan satu per satu.
"Aku menjadi sosok yang lebih sabar memuntahkan amarah."
"Aku menjadi lebih perduli dengan adanya seseorang disampingku."
"Lalu?"
"Kamu tahu? Kamu adalah satu satunya pendamping yang paling sering membuatku meneteskan air mata?" Petir berkata.
"Itu karena kamu menyayangiku, kan." Jawab hujan.
Petir mengangguk pelan.
"Lalu.. Apa yang akan terjadi padamu jika sesuatu terjadi padaku?"
"Aku akan kehilangan separuh jiwaku.."
That's all.