Cinta, hari ini aku belajar satu pelajaran berharga lain, yaitu sabar.
Mengapa kau selalu begitu sabar menghadapiku??
Mengapa engkau begitu berlapang dada dengan keterus teranganku yang ingin menyelingkuhimu??
Mengapa engkau begitu...menerimaku yang seperti ini??
Cinta, maafkan aku.
Hatiku miris melihat ketangguhanmu.
hatiku sayu melihat pandangan mata kesabaranmu.
Hatiku menangis melihat engkau yang dengan sabarnya menghadapiku yang begitu tak memiliki simpati dan belas kasih.
Cinta, maafkan aku karena aku masih tak dapat mencintaimu.
Maafkan aku karena masih tak dapat ikhlas mempercayai bahwa engkau yang berada di sampingku kini.
Cinta, hidupku begitu menyedihkan.
Sama dingin dan bekunya dengan batu es di samudra atlantik yang kurasa baru akan mencair ketika kiamat tiba.
Cinta, maafkan aku karena aku masih tak mempersilahkanmu masuk ke ruangan hatimu yang dulu dan hanya memperbolehkanmu berbaring di beranda depan yang hanya beralaskan keramik dingin.
Tapi engkau tetap tak menyerah, cinta.
Engkau masih saja bersabar dan tetap membuktikan bahwa itulah kau, sang Cinta.
Beribu caci makian dan umpatan telah membuat mulutku berbuih agar kau jera dan pergi dari kehidupanku.
Tapi sedikit pun engkau tak bergeming.
Kau masih tetap tegak berdiri di depan rumahmu yang dulu sambil terus menungguku membukakan pintu, walaupun aku mengetahui bahwa sebenarnya sesekali hatimu juga dibajiri oleh air hujan yang membuatnya jatuh sakit.
Cinta, aku harap aku dapat menjadi lebih baik dari ini.
Dapat membuka kedua tanganku untuk merengkuh kedua pundakmu dan berkata "aku mencintaimu".