Kamis, 04 Oktober 2018

Perih

Inang...
Kamu dimana???
Aku rindu.

Aku rindu sampai ke relung hati.
Rindu yang selama ini kupaksa untuk terbuang, ternyata tak bisa.
Rindu yang selama ini aku coba hiraukan malah membuat otakku kacau.

Inang...
Kamu dimana???
Sehat kamu disana???

Aku... Rindu.

Sudah sekian tahun aku memendam rindu yang setiap kali selalu menghujam jantung.
Sudah sekian tahun dan aku masih terus menghafal namamu.

Aku rindu kamu, nang.

Seandainya bisa aku berlari dan menemuimu, maka izinkan aku kali ini untuk berada disitu sebentar saja.
Walaupun sebenarnya aku ingin lama.
Bolehkah?

Kamis, 18 Desember 2014

What happen with you if something happen to me?

"Apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Tanya sang petir.

"Its uniqly you." Jawab hujan.

"Apa yang kamu maksud dengan uniknya aku? Bahkan kamu tahu sendiri sifatku yang selalu meledak ledak jika marah. Bagaimana mungkin hal itu membuatku jadi unik?" Petir bingung.

"Kamu unik karena kamu sanggup membuatku mencintai dirimu lebih dari mencintai diriku sendiri." Jelas sang hujan.

"Lalu.. Perubahan apa yang telah terjadi dalam hidupmu sebelum dan setelah bersamaku?" Petir kembali bertanya.

Hujan diam sambil mengernyitkan kening. Mencoba mengingat ingat sesuatu. "Kamu telah banyak merubahku."
"Merubahku dari yang kaku menjadi lebih riang dan santai."
"Merubahku menjadi sosok yang memiliki tanggung jawab. Bukan hanya terhadap pekerjaan dan keluargaku. Tapi juga terhadapmu. Seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku."
"Merubahku menjadi lebih adil terhadapmu dan kehidupanku."
"Merubahku menjadi diri sendiri."
"Merubahku menjadi sosok yang lebih sabar."
"Dan 1 hal yang terpenting diantara lainnya adalah..." Hujan menggantung kata katanya.

"Apa itu?" Petir penasaran.

"Kamu adalah sosok yang membuatku berfikir untuk ke depan." Jawabnya sambil mencium kening sang petir, kekasihnya.

"Lalu.. Jika aku tiada. Apa yang akan terjadi padamu?" Petir kembali memberikan pertanyaan.

"Kamu lihat gunung itu?" Hujan menunjuk  sebuah gunung merapi yang berdiri gagah yang penuh dengan pepohonan rindang.

"Ya, aku lihat."

"Kamu tahu apa yang terjadi dengan sang gunung jika lahar panas keluar dari perutnya?"

Petir diam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir sang hujan.

"Gunung itu akan luluh lantak. Pepohonan layu bahkan mati. Debu vulkanik bertebaran kemana mana. Ia menjadi luluh lantak dan tak berarti. Hancur." Jawab hujan sambil menatap kedua mata petir, kekasihnya.

Suasana seketika membisu.

"Bagaimana denganmu? Apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Hujan balik bertanya.

Petir menghembuskan nafasnya panjang. "Entahlah. Aku tak memiliki alasan logis mengapa aku jatuh cinta padamu." Jawab petir mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru bumi.

"Kalau begitu.. Perubahan apa yang telah terjadi padamu sebelum dan sesudah adanya aku?"

"Kamu merubah hampir semuanya." Jawab petir. Ia mulai menjabarkan satu per satu.
"Aku menjadi sosok yang lebih sabar memuntahkan amarah."
"Aku menjadi lebih perduli dengan adanya seseorang disampingku."

"Lalu?"

"Kamu tahu? Kamu adalah satu satunya pendamping yang paling sering membuatku meneteskan air mata?" Petir berkata.

"Itu karena kamu menyayangiku, kan." Jawab hujan.

Petir mengangguk pelan.

"Lalu.. Apa yang akan terjadi padamu jika sesuatu terjadi padaku?"

"Aku akan kehilangan separuh jiwaku.."

That's all.

Selasa, 16 Desember 2014

Korelasi Hujan dan Petir

Suatu sore yang kelabu di atas bumi.
Awan sedang bermalas-malasan di sudut langit sambil melihat ke seluruh penjuru bumi.
Angin baru saja akan melintas di atas samudera dan melihat Awan termenung di sudut langit.
Melihat temannya muram, Angin pun mendekatinya dan berkata kepada awan "Kenapa kau begitu murung, teman? Apa yang sedang terjadi?"

Awan yang kaget menyadari keberadaan angin pun terperanjat. "Oh.. Kau.." Jawabnya sambil menoleh sebentar ke arah angin lalu kembali membuang muka.

"Ada apa denganmu?" Tanya angin sekali lagi yang kali ini sembari mengguncang awan pelan.

"Kau benar2 ingin tahu apa yang terjadi?" Tanya awan tak bersemangat. Wajahnya masih muram.

Dengan semangatnya, angin mengangguk cepat.
Awan menarik dan menghembuskan nafas pelan sembari mengambil aba2 untuk bercerita.
"Aku sedang kesal pada hujan. Seharian ini iya tak menyapaku dan membiarkanku bermain dengan gersang."

"Mengapa demikian?" Angin kali ini duduk di samping awan sambil melipat kedua kakinya dan menumpu kepalanya dengan tangan kanannya diatas kedua kakinya.

Awan menaikkan kedua bahunya. "Entahlah. Ia selalu begitu. Selalu melupakanku setiap kali ia berkumpul dengan petir dan guntur."

"..."

"Padahal aku mencemaskannya." Sambung awan lagi.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau yang lebih dulu menghubunginya saja?"

"Aku?" Tanya awan dengan nada tinggi dan terbelalak kaget. "Tidak akan!" Lanjutnya kesal. "Aku masih kesal setengah mati dengannya."

"Tapi ini sudah beberapa hari kalian tidak bertegur sapa. Tidakkah kau rindu dengannya?"

"Dia harus menghubungiku lebih dulu!"

"Bagaimana jika ternyata ia juga menunggumu untuk menghubunginya lebih dulu karena ia takut kau akan lebih marah jika ia menghubungimu lebih dulu?"

"Tidak akan!!" Awan berkeras.

"Kalau begitu, kau harus bersiap2. Lara sebentar lagi akan datang menghampirimu. Ia akan terus menjadi teman setiamu."

"Aku tidak mau berteman dengan lara!"

"Maka dari itu hubungi dia."

"Tidak!!"

Angin menyerah. "Baiklah kalau itu maumu. Aku harus pergi. Aku akan berhembus ke arah barat. Kau tau dimana jika kau membutuhkanku." Kata angin bergegas pergi.

Malam semakin larut dan hujan tak juga datang. Sedangkan awan masih berdiri tegak di tengah langit di saat awan2 lain tengah tertidur pulas.
Dulu hujan pernah menyuruh awan untuk tidak terus memarahinya. Tidak lagi cerewet dan menuntut ini itu padanya.
Maka dari itu awan pun akhirnya lebih memilih diam ketimbang marah tak tentu arah pada hujan.
Ia sadar bahwa ia rindu. Hatinya masih sakit setiap mengingat kesalahan hujan. Tapi ia rindu. Rindu yang teramat sangat kini tengah menjalari hatinya.

Selasa, 03 Juni 2014

Pisah....

Pertemuan dan perpisahan sesungguhnya adalah dua kata yang tidak dapat dipisah.

Pada akhirnya, kita semua akan melewatinya.
Seperti hari ini,
Hari dimana aku harus memilih untuk tetap disini atau berpisah denganmu.

Ah, kata yang paling kubenci seumur hidupku akhirnya datang juga.
Pisah.
Membiarkanmu melewati hari2 berat sendirian tanpa tempat untuk melepas letih.

Lagi2 kata itu kembali hadir dalam hidupku.
Sial! 
Pergi untuk introspeksi diri dan membiarkanmu fokus bekerja demi tujuan dan cita2 hidupmu yang tak lain adalah aku.

Sepertinya waktu kita telah usai.
Mungkin memang saatnya kita berjuang untuk hidup kita masing2 sampai batas waktu yang ditentukan.

Biadab!! Satu keputusan sulit harus kembali kuambil!
Terlalu banyak DEMI dan meninggalkanmu sendiri. 
Aku tak ingin.

Senin, 02 Juni 2014

Selamat ulang tahun, mbak

Udah genap setahun rumah tanpa mbak.
Sepi, mbak.

Satu kata yang paling ingin dita ucapin... Rindu.
Rindu kita yang dulu.
Rindu semua hal gila yang pernah kita lalui sama2.
Rindu segalanya yang dulu.

Rumah tanpa mbak udah gak lagi sama.
Semuanya berubah seiring berjalan waktu.
Semua orang sibuk dengan kesibukan masing2 hingga gak sempat untuk singgah.



Maaf, satu kata lagi yang terucap.
Maaf karena terlalu lama tidak mengunjungi, mbak.
Maaf karena terlalu lama tidak menitipkan doa, mbak.
Dan, maaf karena dt masih punya begitu banyak salah, mbak.

Selamat ulang tahun, mbak.
Semoga mbak mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah Yang Maha Esa.
Diringankan langkahnya menuju syurga.
Dihapus semua dosa2.
Dan mendapatkan kebahagiaan di alam sana.
Amin ya robbal alamin.
Al fatihah.

Baik2 disana, mbak.
Insya allah kita akan segera bertemu dan berkumpul kembali.

Senin, 20 Januari 2014

Review Penjaja Cerita Cinta



Judul : Penjaja Cerita Cinta
Penulis : @edi_akhiles
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1 : Desember 2013
Tebal : 192 halaman


Penjaja Cerita Cinta adalah buku yang terdiri dari beberapa kumcer.

Awalnya saya agak kesulitan memahami isi beberapa halaman pertama karena menggunakan bahasa yang cukup berat. Tapi memasuki halaman-halaman selanjutnya, saya mulai mengerti isi dari cerpen pertama yang saya baca.

Penjaja Cerita Cinta menjajakan beberapa cerpen dengan berbagai macam gaya bahasa dan tata cara penulisan yang berbeda.
Mulai dari gaya bahasa yang berat hingga paling ringan dan mudah dimengerti.
Mulai dari tema yang biasa hingga yang tak diduga.
Mulai dari yang nyastra hingga yang ngepop banget.
Mulai dari isi yang bikin kening berkerut hingga senyum tersulut.
Mulai dari yang bikin hati terenyuh hingga air mata tumpah ruah.

Kumcer ini cukup membuat emosiku naik turun dengan isi yang disajikan.
Meskipun terdapat cerpen yang menggunakan bahasa yang mudah dimengerti tetapi justru inti dari ceritanya gak dapet.
But, it's okay..
Sebab kekecewaanku terbayar karena di dalamnya terdapat tambahan teknik-teknik dasar penulisan yang diselipkan di dalam salah satu cerpen.
Merupakan suatu Ide yang sangat brilian menurut saya karena penulis memberikan suatu pelajaran dengan cara yang fun seperti itu.

The point is... Kumcer ini mengajarkan saya tentang hal-hal dan ide-ide yang tak pernah terfikirkan oleh saya sebelumnya.

Minggu, 08 Desember 2013

Maafkan aku, Ibu

Ibu,
Ibu,
Ibu,
Ibu.

Siapa orang pertama yang akan bahagia jika kau bahagia?
Siapa orang pertama yang terluka jika kau dilukai?
Siapa orang pertama yang tertawa walaupun candaanmu tak lucu?
Perasaan siapa yang pertama kali merasa paling tersiksa jika hidupmu terpuruk?
Dan, siapa orang pertama yang menangis jika kau tak bahagia?
Dia adalah ibu, ibu, ibu dan ibu.

Catatlah.
Dia adalah orang yang selalu ada disaat kau jatuh dan terluka.
Pelukannya selalu ada setiap kali kau butuhkan.
Nasihatnya selalu tak pernah bosan didendangkannya walau kau bengal.
Doanya selalu tersirat untukmu.
Hatinya akan selalu terpaut padamu.
Tetesan keringat yang dikeluarkannya setiap hari tak lain hanyalah untuk menyambung pendidikanmu.

Setiap malam ia tidur lebih larut darimu.
Setiap hari ia hanya memikirkan bagaimana cara agar perutmu terus terisi.
Ia tak ingin dipuji maupun dibalas kasih.

"Kecewa" dan "menyesal" adalah 2 kata yang terpaut satu sama lain.

"Kau tetaplah anakku walau sikapmu telah berubah terhadapku dan membuatku kecewa." Isi hati seorang ibu. "Hal paling bahagia bagiku adalah melahirkanmu, walau suatu saat, hal yang paling kusesali juga adalah karena melahirkanmu."

Dan apa yang telah kita lakukan?
Setiap nasihatnya tak pernah didengar.
Setiap amarahnya selalu diacuhkan.
Setiap perintahnya selalu diabaikan.
Setiap pembicaraan selalu kita akhiri lebih dulu dan tak pernah ingin berlama2 menghabiskan waktu.

Yang pada akhirnya...
"Aku menyesal telah mengabaikanmu, membentakmu, memusuhimu dan memarahimu, dulu."
"Aku menyesal tak pernah menyetujui pendapatmu, membiarkan kau bangun lebih dulu dan tidur lebih larut dariku, dulu."
"Aku menyesal membekukan hatiku untuk tak mengatakan aku rindu, ibu, dulu."
"Aku menyesal karena tak pernah mau mencium dan memelukmu, dulu."
"Aku menyesal karena tak sempat membalas budimu, ibu."
Itukah yang kita ingin???