Rumah hati yang ingin kusinggahi waktu itu telah berubah menjadi rumah kosong berpenghuni ilusi dengan aura gelap lagi pekat.
Aku bahkan tak ingin menginjakkan kaki lagi pada halamannya.
Kau tahu... Aku benci mengatakan ini... Tapi aku salah.
Tak ada satu pun tujuan hidupku di belakang sini.
Rumah hati yang dulu ingin kusinggahi telah penuh dengan fatamorgana.
Tak ada satu pun kamar kosong di tempat itu yang siap kuhuni.
Aku melihatmu duduk termenung di kursi malas beranda depan rumahmu.
"Mengapa jadi begini?" Tanyaku bingung.
Engkau menghembuskan nafas pelan sebelum menariknya kembali dengan satu tarikan nafas panjang. "Kau telah pergi meninggalkanku tanpa permisi!! Kau tahu apa yang selama ini telah kau perbuat??? Kau tahu betapa sakitnya menjadi korban penjara patah hati yang kau ciptakan sendiri untukku!!!" Tanyamu geram.
"Aku....."
"Kau memenjarakanku di dalamnya lebih dari 3000 hari tanpa berusaha untuk menjengukku demi membukakan kunci!! Dan kini kau ingin kembali???"
"Aku....."
"Pergi dan jangan kembali!!!!" Serumu sembari menunjuk satu jalan setapak kecil sunyi.
"Tapi aku ing...."
"Pergi!!! Aku tak ingin mengingatmu lagi!!!" Serumu sekali lagi.
Aku berbalik arah dan berjalan kembali ke belakang, mengejarmu yang beberapa saat lalu kutinggalkan.
Lalu, sedetik kemudian aku menyadari bahwa jalan yang tadi kutapaki tak lagi terlihat.
Jurang besar telah menganga tepat beberapa senti di depanku.
Hingga aku tersadar bahwa kau telah pergi dan tak dapat ku gapai lagi.
Rumah ilusi tadi???
Ia lenyap bersama sayatan kepedihan yang selama ini terus menyelimutinya.
Sisanya, hanya tanah kosong dengan rumput liar setinggi dada yang tak berpenghuni.
Dan, disinilah aku berada.
Membangun jembatan dari sisa potongan sesal.